Menu

Mode Gelap
 

Samarinda · 25 Jul 2023 WITA ·

7 Tempat Wisata Religi di Samarinda, Bukti Kota Tepian Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Toleransi


 Caption: Masjid Muhammad Cheng Hoo, Jalan Ruhui Rahayu, Nomor 1 Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda. (ist).
Perbesar

Caption: Masjid Muhammad Cheng Hoo, Jalan Ruhui Rahayu, Nomor 1 Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda. (ist).

Portalborneo.or.id, Samarinda – Wisata religi kini menjadi tren tersendiri bagi masyarakat yang ingin beriwisata sekaligus menjalankan ibadah.

Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), menawarkan berbagai tempat wisata religi.

Selain karena kemegahan arsitekturnya, catatan sejarah yang melatarbelakangi tempat ibadah di Kota Tepian -julukan Samarinda- menyimpan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Adanya berbagai tempat ibadah menunjukkan bahwa Samarinda sebagai salah satu kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antara umat beragama.

Berikut ini 7 tempat wisata religi di Samarinda, seperti dilansir dari berbagai sumber:

  1. Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid Muhammad Cheng Hoo, atau dikenal juga sebagai Masjid Cheng Ho, memiliki bangunan yang unik.

Lokasinya ada di Jalan Ruhui Rahayu 1 Nomor 1 Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda.

Bangunan Masjid Cheng Ho memadukan budaya asal China dan Arab.

Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning, ornamennya kental nuansa China lama dan pintu masuknya menyerupai pagoda.

Ada relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda.

Dibangunnya tempat ibadah ini merupakan bentuk penghormatan kepada Laksamana Muhammad Sulaiman Cheng Ho asal China yang beragama Islam.

  1. Masjid Islamic Center

Masjid yang berlokasi di Jalan Masjid Islamic Center, Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, ini kerap dijuluki masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal.

Masjid ini memiliki latar tepian Sungai Mahakam dengan menara dan kubah besar.

Adapun lokasi Masjid Islamic Center ini sebelumnya merupakan lahan bekas area penggergajian kayu milik PT Inhutani I yang kemudian dihibahkan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

  1. Gereja Paroki Katedral Santa Maria Penolong Abadi

Gereja Paroki Katedral Santa Maria Penolong Abadi adalah gereja lama yang direnovasi.

Dulunya Gereja Katedral lama dibangun sebagai Gereja Paroki Samarinda pada tahun 1953.

Kemudian dijadikan sebagai Gereja Katedral saat Keuskupan dibentuk pada 3 Januari 1961.

Sebelum direnovasi, gereja ini hanya berkapasitas 800 orang, namun setelah direnovasi kapasitasnya meningkat menjadi 4.000 orang.

Gereja ini juga tampak megah dengan tinggi 45 meter dari lantai dasar.

Ciri khas bangunan juga tampak pada dua menara tinggi menjulang yang mengapit bentang tengah gereja.

Berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Samarinda, tempat ibadah ini memiliki desain bernuansa gotik, kontemporer, dan inkulturatif.

Adapun gotik dikenal sebagai salah satu arsitektur klasik Gereja Katolik pada paruh kedua abad pertengahan, sedangkan inkulturatif mewakili budaya khas Kalimantan Timur.

  1. Masjid Shiratal Mustaqiem

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Masjid Shiratal Mustaqiem adalah masjid tertua di Kota Samarinda.

Masjid ini berada di Kecamatan Samarinda Seberang.

Dibangun pada tahun 1881, Masjid Shiratal Mustaqiem pernah jadi pemenang kedua dalam festival masjid-masjid bersejarah di Indonesia pada tahun 2003.

Setelah bangunan masjid rampung pada tahun 1901, seorang saudagar kaya berkebangsaan Belanda, Henry Dasen, memberikan sejumlah hartanya untuk pembangunan menara masjid.

Menara itu berbentuk segi delapan dengan tinggi 21 meter.

Lokasinya tepat di belakang kiblat masjid.

  1. Masjid Raya Darussalam

Masjid Raya Darussalam berada di tepi Sungai Mahakam dan konon sudah dibangun pada tahun 1925, dilansir dari laman resmi Dewan Kehormatan Masjid.

Lokasinya ada di Jalan K.H. Abdullah Marisie, Pasar Pagi, Samarinda.

Masjdi ini memiliki luas tanah 8.000 meter persegi dan luas bangunan 10.000 meter persegi.

Masjid Raya Darussalam berada di atas tanah yang berstatus wakaf.

Jumlah jemaahnya lebih dari 200 orang, dengan muazin sebanyak 52 orang.

  1. Kelenteng Thien Le Kong

Rumah ibadah etnis Tionghoa, Kelenteng Thien Le Kong di Jalan Yos Sudarso, Samarinda merupakan salah satu tempat ibadah tertua di Kaltim.

Dibangun 1905, Kelenteng Thien Le Kong kini berusia 115 tahun.

Kelenteng ini pernah dibom Jepang saat hendak memberanguskan pabrik minyak goreng yang berada tepat berada di belakang Kelenteng.

Ada delapan tiang penyangga dari bangunan kuno ini.

Salah satu tiang muka penyangga bangunan ini miring akibat dibom.

Saat tiba, aroma asap dupa menjadi ciri khas tempat ibadah ini begitu terasa. Tampak sebagian orang membakar lilin, sebagian lagi berdoa.

Dari depan hingga seluruh bangunan dipenuhi warna merah dan gambar naga.

Dalam ruangan, tiang yang menyangga bangunan di cat hitam dengan ukiran khas Tionghoa keemasan.

Bangunan ini awalnya berbentuk rumah panggung karena berada di pinggir pertemuan muara Sungai Karang Mumus dengan Sungai Mahakam.

Bangunan ini telah melewati tiga era, yaitu kolonialisme Hindia Belanda, Jepang, hingga era kemerdekaan RI.

Bangunan kuno ini dibangun 1903, tapi rampung dua tahun kemudian, 1905.

Semua material dibawa dari China, bangunannya tanpa paku dan hanya menggunakan pasak.

Tokoh pelopor pendiri bangunan bersejarah ini bernama Oey Khoey Gwan atau lebih dikenal Oey Thjing Tjawan.

  1. Buddhist Center

Bangunan seluas 10.600 meter persegi tersebut terlihat megah dan bisa menjadi kebanggaan Kaltim.

Seluruh bagian luar bangunan dilapisi keramik.

Beberapa bagian bahkan dilapisi batu paras berukir.

Untuk mengerjakan beberapa elemen tersebut, panitia pembangunan mendatangkan tenaga dari luar daerah.

Selain itu, ada pekerja dari Tulungagung, Jawa Timur, yang memberi ukiran warna emas pada bagian depan bangunan.

Sementara itu, patung-patung Buddha didatangkan dari Taiwan.

Tiga pratima setinggi 3,9 meter ditempatkan di lantai 1 (Graha Shakyamuni).

Pratima tersebut adalah Buddha Shakyamuni (Buddha Gautama), Bodhisattva Avalokita, dan Boddhisattva Satyakalam.

Sedangkan pratima Buddha Maitreya setinggi 5 meter berada di lantai 3.

Pratima Buddha itu masih diselimuti kain dan akan dibuka saat peresmian.

Monumen tersebut didirikan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dunia merupakan satu keluarga.

Mereka ingin menunjukkan budaya yang saling bekerja sama, saling tenggang rasa, dan saling menghormati.

Di bawah monumen juga ada kafetaria untuk semua lapisan masyarakat.

Makanan yang disajikan berkualitas dan sehat.

(Tim Redaksi Portalborneo.or.id).

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Cipayung Plus Kalimantan Timur Memperingati Hari Sumpah Pemuda

29 Oktober 2023 - 20:32 WITA

Generasi Muda Kaltim Diminta Aktif Wujudkan Perubahan Positif

28 Oktober 2023 - 14:17 WITA

Samsun Mendukung Semangat Wirausaha Pertanian di Kaltim

27 Oktober 2023 - 13:52 WITA

Kukar Penyuplai Bahan Pangan Terbesar di Kalimantan Timur

27 Oktober 2023 - 13:37 WITA

Tantangan dan Prestasi Terbaru Kaltim Terkait Industri Kopi di Kutai Barat

27 Oktober 2023 - 13:30 WITA

Salehuddin: Legalitas Lahan Sekolah untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

26 Oktober 2023 - 13:21 WITA

Trending di DPRD Kalimantan Timur